Selasa, 24 Agustus 2010

Purnama di Purwokerto

PURWOKERTO (26 – 28 Juli)

Ini merupakan kunjungan pertama kami ke Purwokerto, tidak ada bayangan akan seperti apa nanti ketika pemutaranya. Kami tiba di stasiun Purwokerto pukul 03:40, terlambat dari jadwal semula yang seharusnya tiba pukul 02:00 (ternyata eksekutif ngaret juga). Ode dari lembaga penelitian dan pengembangan sumberdaya dan lingkungan hidup (LPPSLH) panitia di purwokerto sudah datang menjemput, dan kami bertemu Bowo Leksono, Bayu Bergas dan Yunika Fitriana mengobrol tentang perjalanan pertama kami ini, siapa yang biayain roadshow sampai gosip komunitas film, dan kami berdua lebih sering roaming karena mereka menggunakan bahasa lokal (tapi saya yakin bahan pembicaraannya menarik), setelah itu kami di antarkan ke tempat Ode untuk menginap. Hari pertama, kami habiskan untuk wisata lokal, berkunjung ke Baturraden sebuah mitos tanah purwokerto tentang cinta terlaran,g antara raden dan pembantunya. Marcel melakukan refleksi di pemandian air panas, sambil ketawa-ketawa karena daerah sensitifnya di pegang mas-mas (sensitif:kegelian), sedangkan saya merendam kaki sambil mengobrol dengan ode dan pedagang minuman di sekitar pemandian air panas, menanyakan kondisi tempat wisata ini.

Di Purwokerto kami menginap selama 3 hari 2 malam, selalu hujan di sore hari. Hal itu yang membuat kami harus berusaha melewatinya di malam pemutaran pertama pukul 18:00. Kami menggunakan 2 sepeda motor untuk menerobos hujan dengan mantel hujan. Membawa buku Jurnal Perempuan, laptop, DVD & Proyektor. Tempat pemutaran di purwokerto bernama café angkriman, tempat nongkrong anak muda untuk berapresiai. Lalu kami mempersiapkan screen, proyektor, postcard yang di bagikan ke penonton, sampai pukul 20:00 acara baru di buka dan di putarlah program short & young dari V Film Festival dan Boemboe. Pembuat film Bumi masih berputar turut datang dan kami persilakan untuk membuat diskusi sebelum masuk ke Purnama di Pesisir. Penonton semakin banyak datang menyusul, karena hujan sudah reda. Suasana café angriman penuh saat itu, sampai ke belakang.

Selesai pemutaran, kami maju ke depan untuk membuka diskusi dengan moderator Ode. Pertanyaan berbagai macam, dari persoalan tekhnis bagaimana membuat film seperti ini, lalu apa rencana selanjutnya dari si pembuat filmnnya sendiri, biaya sekolah di IKJ, bagaimana caranya bisa masuk ke festival-festival, berapa biaya produksi film ini. Untuk pertanyaan terakhir tidak saya jawab dengan menyeluruh, karena pertimbangan film PdP memiliki standar kelulusan dari IKJ, dan itu yang membuat film harus di danai dengan serius, sehingga saya menjelaskan di mana saja dana yang besar. Seperti penyewaan kamera, bahan baku, proses post, sehingga mereka mendapatkan gambaran kasarnya saja. Lalu marcel menjelaskan bagaimana membantu mengatur dan mempersiapkan lokasi, agar ketika kami shooting semua bisa terkendali dan lancar. Diskusi yang menarik dan senang bisa melihat antusias penonton ketika melihat Purnama di Pesisir (PdP).

Setiap penanya mendapatkan buku Jurnal Perempuan dan pertanyaan favorit mendapatkan baju V Film Festival. Diskusi selesai sekitar jam 22:00, namun teman-teman masih nongkrong membahas pertanyaan dari diskusi sebelumnya, sambil menikmati lantunan musik sampai jam 02:00 dari PArja simanager café, yang senang dengan acara yang kami persiapkan ini. Karena mata belum mengantuk, maka kami lanjutkan untuk makan malam di pasar Wage. Sambil mengobrol tentang komunitas film banyumas yang saat ini sedang vakum, lalu program LPPSLH yang mengadakan kelas film, setiap sebulan sekali di kantornya. Kami juga mmeberikan informasi kalau teman-teman di IKJ sedang sidang kelulusan, sehingga akan banyak film baru yang bisa kalian putar di sini. Karena teman-teman komunitas selalu mencari film terbaru untuk di up date ke masyarakat Purwokerto dan Purbalingga (khususnya). Sehingga dengan roadshow kami jadi tahu bagaimana kondisi komunitas film, yang berjuang dengan semangat luar biasa memberikan pengetahuan tentang film dan menurut kami harus di dukung dengan kita si pembuat film, yang membutuhkan mereka untuk di apresiasi masyrakat luas. Obrolan in harus berakhir karena pemilik warung sudah berbenah mau menutup dagangannya, tak terasa sudah pukul 04:00 kami kembali ke rumah masing-masing.

Keesokannya kami melanjutkan wisata lokal, berkunkung ke purbalingga, janjian dengan Bowo Leksono dan Pika. Perjalanan dari Purwokerto-Purbalingga sekitar 30 menit, kami kembali meneduh karen hujan turun kembali. Sekitar 20 menit hujan turun dan akhirnya reda, kami yang sudah keroncongan langsung menuju rumah makan soto kuah kacang dan es duren, semuanya mantap markotob.

Perjalanan di Purwokerto sebagai kota pertama, memberikan banyak harapan untuk kami. Karena dengan persiapan yang sederhana dan semangat ternyata mampu membuat sebuah pemutaran film berjalan cukup lancar dan di datangi banyak orang, meskipun hujan datang. Atas dukungan teman-teman komunitas di Purwokerto dan Purbalingga, sehingga pemutaran kami bisa tambah seru. Oleh karena itu kami ucapkan terimakasih kepada:

V Film Festival 2nd

Yayasan Jurnal Perempuan

Boemboem

LPPSLH

CLC

BILIK SENA

SUKMA MADYA

PARJA & CAFE ANGRIMAN

BAYU BERGAS

YUNIKA

sampai bertemu di karya berikutnya

Tidak ada komentar: